Selasa, 24 Januari 2012

masalah eksistensi diri

sore (24 januari 2012) ini saya berbincang-bincang dengan seorang senior.. kami membicarakan masalah eksistensi diri kita..



tidak seperti anak ayam yang ditinggalkan induknya. walaupun tanpa induk, seekor anak ayam dapat bertahan hidup dengan mencari makan sendiri. sedangakan manusia akan mati atau setidaknya ia akan merasa sengsara jika komunitas di sekitarnya mengucilkannya.

coba pikir, kenapa di beberapa jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya ada yang menuliskan status atau tweet yang sebenarnya kalo dipikir-pikir itu TIDAK PENTING.. seperti apa yang ditulis beberapa teman saya teman saya baru-baru ini :
"bisul mulai merambat..", (penting..???)
"makan bakso.. di sri****" (penting..???)
"g.a.l.a.u tingkat smp", (ternyata galau juga ada sekolahnya..)
"hidup adalah permainan.. makin tinggi, makin sulit levelnya" (itu hidup lu.. gue ga peduli..!!)
"tuhan, jemput aku.." (pengen mati..?? kesini aja, bisar gue bunuh..!!)
"ya Allah, semoga acara besok lancar2 aja.." (lu pikir tuhan juga pesbukan..??? begok.!!)


intinya, setiap orang ingin berkomunikasi untuk menunjukan dirinya eksis, seperti inilah yang disebut aktualisasi diri atau eksistensi diri.. bila kita berdiam diri, maka orang lain akan menganggap diri kita tidak eksis.. singkatanya, SETIAP ORANG INGIN DIANGGAP PENTING..

1 komentar:

suci-irham-pratiwi mengatakan...

Betul. Tapi dak pernah terpikir...

Poskan Komentar